Banyak Bencana Alam, Spiritualis Nusantara Anjurkan ‘Selametan Bumi’

bencana alam

JAKARTA – Spiritualis nusantara Kidung Tirto Suryo Kusumo menyatakan bencana alam bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan salah satu bahasa alam sebagai reaksi atas tingkah laku manusia di atas bumi ini.

Dia menjelaskan, bencana alam pada dasarnya adalah fenomena alam secara ekstrem atau yang berbeda dari pola normalnya. Contohnya banjir, gunung meletus, gempa bumi, kebakaran hutan, puting beliung, gelombang tinggi.

“Manusia menyebutnya bencana alam karena kejadian ekstrem itu kerap menimbulkan bencana bagi manusia, seperti rumah rusak, fasilitas rusak, orang-orang terluka bahkan sampai kehilangan nyawa,” ujar spiritualis yang sering kontemplasi di puncak-puncak gunung itu, Senin (12/4/2021).

Dia mengatakan bahwa fenomena alam ekstrem itu merupakan reaksi alam terkait tingkah laku manusia. Beberapa fenomena sudah bisa dijelaskan hubungan sebab akibatnya.

Contoh, fenomena banjir karena ulah manusia menggunduli hutan. Atau fenomena rob air laut yang melanda pemukiman, karena manusia menggusur hutan mangrove di pinggir pantai.

“Contoh paling besar adalah fenomena perubahan iklim yang menjadi awal fenomena-fenomen ekstrem lain. Ini kan karena ulah manusia memanaskan bumi,” katanya.

Beberapa fenomena alam ekstrem lain, kata Kidung, sejauh ini belum bisa dijelaskan alur sebab akibatnya terkait tingkah laku manusia. Contohnya gunung meletus dan gempa bumi.

Namun, dari catatan dan perenungannya, fenomena alam ekstrem itu tetap terkait dengan tingkah laku manusia. Pancaran energi keburukan dari tingkah laku manusia memancing reaksi alam yang berujung pada kejadian ekstrem hingga berujung pada bencana.

“Menangkap fenomena ini butuh ketajaman akal budi dan kejernihan mendengar petunjuk alam semesta,” katanya.

Kidung Tirto menegaskan, tingkah laku manusia yang akan memicu reaksi ekstrem alam adalah perilaku-perilaku buruk manusia terutama yang menduduki jabatan alias politisi. Mengapa keburukan politisi lebih signifikan memancarkan energi negatif, dia menjelaskan, sebab para politisi memegang kekuasaan yang dampaknya akan menjangkau publik luas.

“Sama-sama mencuri, kalau yang mencuri para politisi tentu dampaknya lebih merusak negara. Kalau yang mencuri rakyat biasa, dampak kerusakannya lebih kecil,” ujarnya.

Pada awal Maret lalu, Kidung Tirto mengingatkan bahwa dirinya sudah mengirimkan pesan terbuka ke kalangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Inti pesannya ada tiga yakni menjaga amanat rakyat, memberi edukasi baik, dan menebarkan persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kalau sampai rakyat menjerit karena ulah mereka (anggota DPR), jangan kaget kalau alam akan berteriak,” kata Kidung Tirto kala itu, di sela-sela prosesi ritual dan kontemplasinya di Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Dia mengingatkan, anggota DPR adalah wakil rakyat, yakni orang-orang yang diminta rakyat untuk mewakilinya. Dalam hal ini ada harapan dan amanat yang dititipkan.

Dalam konteks sistem demokrasi, sosok yang mendapat amanat dari rakyat akan mendapatkan delegasi kekuasaan dari rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Delegasi kekuasaan itu sepaket dengan beragam fasilitas yang diperolehnya sebagai anggota wakil rakyat.

“Seperti itu kontrak sosialnya, maka kalau amanat itu dikhianati, semesta tak akan mendukung. Jangan kaget kalau amanat itu akan copot dan alam memberi hukuman dengan caranya,” ujar Kidung.

Selametan Bumi

Terkait dengan banyaknya bencana alam dewasa ini, Kidung Tirto merekomendasikan langkah-langkah yang perlu dilakukan terutama oleh pemerintah dan para politisi. Langkah-langkah itu terbagi dalam tiga langkah pokok.

Pertama, menyelamatkan rakyat yang terlanda bencana. Ini adalah langkah prioritas sebagai wujud peran negara sebagai institusi yang mengayomi rakyatnya. “Negara harus hadir di tengah penderitaan rakyat,” tegasnya.

Kedua, mengantisipasi dampak-dampak serius terhadap rakyat atas potensi bencana-bencana di masa mendatang. Perlu dilakukan pemetaan dan perencanaan pengelolaan daerah-daerah yang rawan bencana.

Ketiga, langkah yang lebih bersifat supranatural terkait dengan hubungan antar manusia dan alam seperti yang sudah dijelaskan tadi. Manusia-manusia terutama politisi harus refleksi dan memperbaiki kesalahan.

Selain itu secara pribadi dan kelembagaan, perlu melakukan Selametan Bumi sebagai wujud penghormatan terhadap alam dan bukti perbaikan diri. “Jangan tunggu alam marah lebih besar, ini tidak main-main,” kata Kidung Tirto.

Dia menambahkan, momen puasa Ramadan di kala pandemi kali ini juga harus diptimalkan untuk meningkatkan spiritualitas. “Selamat menuaikan ibadah puasa bagi umat muslim. Jaga kesehatan, jangan lupa bahagia,” ujar Kidung Tirto.

Bagikan berita ini di sosial media
    
   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *