Daerah  

Satgas Temukan Penanganan Covid-19 di RSUD Lukmonohadi Kudus Tak Sesuai Prosedur

Penanganan Covid-19

SEMARANG|GemaNusantara.id – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah mencatat setidaknya ada 8 Kabupaten/Kota yang mengalami kenaikan kasus secara signifikan meliputi Sragen, Tegal, Brebes, Banyumas, Cilacap, Karanganyar, Wonogiri dan Kudus.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan kendati telah dilakukan konsultasi dan koordinasi secara rutin terkait adanya potensi kenaikan kasus dari liburan panjang, namun tidak semua diantisipasi dengan baik oleh sejumlah Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Tengah sehingga terjadi kenaikan kasus seperti yang terjadi di Kudus.

Kepala BNPB Ganip Warsito menyerahkan dukungan berupa Dana Siap Pakai (DSP) senilai Rp1 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Kudus dan beberapa bantuan lain meliputi tenda isolasi 2 buah, masker kain 20.000 lembar, masker kain anak 10.000 lembar dan handsanitizer sebanyak 20 jerigen dengan kapasitas 4 liter.

Ganip Warsito juga melakukan blusukan ke Pasar Bitingan, Kota Kudus, Jawa Tengah, Kamis (3/6). Kegiatan tersebut dilakukan Ganip guna melihat langsung bagaimana penerapan protokol kesehatan yang dilakukan di salah satu pusat jual beli di Kota Kretek tersebut.

Dia meluangkan waktu untuk menyapa para pedagang dan pembeli sekaligus memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya memakai masker, menjaga jarak dan cuci tangan sebagai tonggak utama memutus mata rantai penularan Covid-19.

“Dipakai maskernya nggih, Bu,” ucap Ganip sambil menyapa beberapa pedagang yang mayoritas kaum perempuan sambil membagikan masker kepada warga yang beraktivitas di lingkungan pasar.

Saat mengunjungi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Lukmonohadi Kudus, Kamis (3/6), Kepala BNPB Ganip Warsito minta pihak rumah sakit membenahi manajemen dan melakukan penanganan pasien Covid-19 sesuai prosedur kekarantinaan.

Pasalnya, dia menemukan adanya penanganan pasien yang masih belum sepenuhnya menerapkan aturan sesuai standar kekarantinaan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk pasien Covid-19.

Pada kesempatan itu, Ganip melihat sendiri beberapa pasien yang dirawat di IGD dengan status reaktif Covid-19 melalui tes usap antigen masih didampingi oleh sanak keluarga.

Padahal pasien tersebut seharusnya sudah diisolasi dan tidak boleh dijenguk atau didampingi oleh siapapun, kecuali hanya tenaga kesehatan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Sebab hal itu dapat mengakibatkan adanya potensi penularan virus.

Untuk itu, dia meminta pihak RSUD dapat memperbaiki sistem dan manajemen agar kemudian hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah dan diantisipasi, sehingga tidak terjadi lonjakan kasus karena kelemahan sistem dan strategi penanganan pasien.

“Terkait manajemen contohnya seperti tadi yang di IGD tadi, seharusnya tidak boleh lagi ada orang dari luar masuk. Itu penularan bisa terjadi walaupun yang dirawat di IGD ini belum dinyatakan positif tapi sudah reaktif Covid-19,” tegas Ganip.

“Yang sudah dikarantina ya betul-betul dikarantina, jangan ada orang yang bebas keluar masuk. Ini yang saya ingatkan,” imbuhnya.

 

Bagikan berita ini di sosial media
    
   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *